Awal
Tak ada yang bisa kujelaskan selain definisi bahagia ketika awal bertemu denganmu. Semua seperti biasa, damai. Senyum indahmu menyambutku kala pandangan kita terpaut. Berdebar? Tidak. Hanya saja rasanya seperti tenang, aman.
Kulihat dirimu kaku dan malu-malu untuk mengajakku bicara. Kuyakin karena ini pertama kalinya kamu bertemu dengan orang asing. Aku pun sama.
Aku sendiri lebih banyak diam. Bukan berarti aku tidak tertarik berbicara denganmu, hanya saja aku lebih suka mendengar suaramu. Aku hanya ingin mendengar, takut kalau-kalau tak dapat kesempatan mendengar suaramu lagi setelah ini.
Kamu pun mulai banyak bicara. Sambil memakan semangkuk bakso dihadapanmu, sesekali kamu menatapku malu. Tidak banyak topik obrolan yang kuingat saat itu. Tugasku hanya menimpali pembahasanmu sambil sesekali bertanya kembali agar lebih panjang obrolannya untuk di setiap topik.
Tak banyak yang kita lakukan. Menonton film, makan, lalu meminum jus.
Menu jus yang saat itu sama-sama kita minum ternyata ampuh untuk menahan kita tetap berbicara. Sampai live music hampir selesai dan kerumunan orang sudah tak ada lagi kita masih bertahan di tempat yang sama.
Kali ini kamu banyak bercerita. Ternyata kamu tidak sebegitu pendiam seperti yang kukira di awal. Aku tidak tahu apakah karena kamu memang nyaman bicara denganku, atau semula kamu masih malu.
Cukup lama kita bersama hari itu. Sekitar enam jam kita gunakan untuk saling mengenal hingga kemudian berpisah untuk pulang.
Dan kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuan ini.
Dan kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuan ini.
-Ryn
Komentar
Posting Komentar